Layanan Dukcapil Setengah Hati ?
Nusa Tenggara Timur, Tribun Nusantara, 22/11/2025
Ardana Ardi, ASN Dukcapil di Sumba Timur memberikan layanan yang luar biasa bagi warga.
Akan tetapi sayang nya tidak didukung oleh layanan yang memiliki standar penyelesaian yang baku. Bagus di satu sisi akan tetapi tidak bisa dipastikan di sisi yang lain.
Layanan untuk warga tidak bisa diberikan dalam kerangka antar kantor dukcapil yang berbeda.
Menteri Dalam Negeri harus memahami realitas yang ditemukan dalam layanan dokumen kependudukan seperti ini.
Apa tidak bisa membuat standar layanan one day service atau terlalu lama, buat saja layanan one hours service atau 15 minutes service.
Jaringan sistem informasi yang digelar di seluruh wilayah Republik sudah tidak kaleng kaleng seperti itu. Mengirimkan data hanya dalam hitungan detik. Teknologi sudah secepat itu.
Tak ada lagi gambaran layanan satu Minggu atau satu bulan seperti yang disampaikan oleh Ardana Ardi yang cantik dan ramah itu.
Petugas Dukcapil Ardana Ardi yang cantik itu memang ramah, sekaligus jujur bercerita bahwa layanan dokumen on line bukan hanya tanggung jawab sisi Kabupaten Sumba Timur akan tetapi juga tergantung pada layanan di kantor Dukcapil Jakarta, sebagai tempat asal dokumen.
Kalau tidak warga harus terbang ke Jakarta dulu untuk memastikan dokumen nya diproses di Jakarta. Tiket pesawat, hotel, transportasi keluar masuk Bandara, uang makan, uang amplop, walhasil warga membutuhkan lebih dari 10 juta rupiah hanya untuk selembar kertas yang tidak berguna.
Tidak berguna ? Ya karena kalaupun kertas itu dibawa ke bank, petugas bank paling hanya nyinyir kalau diminta hutang untuk mengganti biaya transportasi dan lain-lain yang 10 juta rupiah itu
Perspektif layanan publik yang cepat dan baik yang sudah dipraktekkan oleh Ardana Ardi, tapi tetap saja ada lubang layanan. Semuanya tergantung di kantor asal Dukcapil Jakarta.
Menyedihkan. Untung saja Ardana Ardi bercerita, kalau tidak, delay layanan antar kantor Dukcapil ini bisa jadi bertambah panjang, jadi 10 tahun ? Hanya untuk mengurus selembar kertas kependudukan yang bahkan tidak laku dijual ke perbankan.
Mengapa layanan untuk warga negara se "leuleut" itu ? Pak Mendagri bagaimana mengatasi hal ini ?
Janganlah dibiarkan layanan warga negara seperti ini. Juga jangan berkilah kalau sistem jaringan kependudukan memang tidak terlalu support hal hal seperti ini.
Berpikir sederhana saja. Bagaimana warga negara yang sedang butuh dokumen ini bisa dilayani dalam waktu 5 menit. Bisa enggak ? Iya deh 15 menit boleh? Masih belum bisa juga ? Setengah jam, maksimal.
Jangan membuat warga negara susah. Mereka harus mencari uang untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Terlalu lama mengurus dokumen di kantor Dukcapil nanti membuat mereka tidak bisa mencari uang.
Ah ini juga kesalahan dari dunia pendidikan, Kementerian Pendidikan gagal memberikan pemahaman kepada siswa pelajar sekolah bahwa negeri ini jauh lebih kaya dari China atau bahkan Amerika Serikat. Sehingga sedemikian rumit domain para pencari pekerjaan. Berlimpah ruah sumber daya alam dan dunia kerja akan tetapi karena pendidikan gagal memberikan perspektif yang tepat soal pekerjaan, ya, mind set lulusan sekolah, setelah lulus paling hanya ingin jadi PNS, TNI, Polisi, dokter...paling hanya itu.
Padahal sumber daya alam berlimpah di depan mata, akan tetapi sangat mata yang tidak faham juga tidak mengerti yang mana saja yang berharga dan bernilai rupiah sangat tinggi.
Pak Menteri, bisa enggak diperbaiki sistem nya. Biar surat surat kependudukan itu bisa selesai diberikan dalam jangka waktu 15 menit saja.
Vijay
