5 Titik Api Di Tengah Kota Sidoarjo
Sidoarjo,
Rabu pagi (11/06), sebelum pukul 5 pagi, baru saja selesai azan Subuh, 5 sampai 6 titik api ditemukan, di sepanjang Jalan Untung Surapati dan Jalan Trunojoyo Sidoarjo. Kedua jalan bersambungan itu mengarah ke alun-alun Timur kota Sidoarjo.
Lalu lintas masih belum padat, terlihat api yang mulai menyala berkobar membakar. Bukan hanya ada 1, akan tetapi ada 5 titik api lain yang menyala. Dua lainnya sudah padam dan membawa kepulan asap berwarna putih.
Tak ada kendaraan pemadam kebakaran dari BPBD Kabupaten Sidoarjo, meski asap sudah menutup setengah jalan.
Tak banyak orang yang tahu titik titik api di sepanjang jalan Untung Surapati dan Trunojoyo pagi itu.
Untung nya titik api itu tidak merembet ke gedung perkantoran pertokoan di sekitar nya. Kompleks perumahan padat dalam kota juga terlihat aman dari jangkauan titik api itu.
Petugas kebersihan jalan dari DLHK (Dinas Lingkungan Hidup Dan Kebersihan) Sidoarjo malah terlihat bercanda sambil memainkan gagang sapunya di antara titik-titik api itu.
Daun daun kering ranting dan sampah jalanan tadi malam, dikumpulkan di beberapa titik, lalu dengan batang korek api petugas kebersihan itu menyalakan api membakar daun ranting kering dan sampah.
Cara yang efektif untuk menghilangkan daun dan ranting sampah organik di sekitar jalan Untung Surapati sampai Jalan Trunojoyo.
Bakar saja, sampah pun hilang seketika itu. Meski menimbulkan titik api yang membesar dan mampu menyambar lokasi kantor dan perumahan di sekitar. Paling tidak sampah sudah bisa dimusnahkan di lokasi di mana sampah itu ditemukan, tak perlu diajak transportasi berjalan-jalan dulu ke TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu). Musnahkan sampah di mana dia ditemukan.
Drs.H Ilhami, Msi. Kepala Dinas Informatika Arsip Dan Perpustakaan Kabupaten Mojokerto memberikan sebuah resep kepada Dr. Ir. Cahyana Ahmadjayadi, MH, Dirjen Aplikasi Telematika, Kementerian Komunikasi dan Informatika pada kisaran 1 dekade yang lalu, tentang resep mengatasi sampah yang menggunung.
Informatika News Line merekam dengan jelas, komunikasi antara dua pejabat Pemda dan Pemerintah Pusat itu di ruang rapat Kementerian Komunikasi dan Informatika Jalan Medan Merdeka Barat No.9.
Pada waktu itu sampah dalam kondisi tak mampu diatasi di Kota Bandung. Tumpukan sampah sampai setinggi gedung tingkat 3 di Kota Bandung menyebarkan bau busuk di seluruh sudut kota Bunga itu. Bandung yang geulis itu pun berubah aromanya menjadi Kota bau bunga Bangkai.
Nasihat Kepala Dinas dari Jawa Timur itu sederhana.
" Sampah itu harus diselesaikan di tingkat rumah tangga. ..." Kata Ilhami memberikan masukannya kepada Cahyana.
Pemegang jabatan Dirjen terlamba dalam sejarah Republik, asal Garut, yang usianya 5 tahun lebih muda itu mendengarkan dengan seksama masukan Kepala Dinas itu.
Menyelesaikan sampah di rumah tangga, artinya harus membiasakan membuat musnah sampah, di setiap rumah warga. Dan hanya menyisakan sebagian kecil saja. Atau bahkan rumah tangga itu sendiri yang mendistribusikan sisa sebagain kecil sampah non organik ke pusat lokasi sampah terakhir.
Jika ini dilakukan, menyelesaikan sampah hanya sampai di rumah saja, maka mata rantai distribusi sampah yang mahal dan bertele-tele itu akan berhenti. Tak lagi ada lingkaran setan yang muncul saat sampah diselesaikan di setiap rumah warga kota. Rumah tangga yang jorok dan gagal membersihkan sampah nya sendiri akan didenda oleh pemerintah daerah.
Inspirasi sekilas dari Kepala Dinas Informasi itu kemudian membuat Cahyana terinspirasi untuk bergerak membantu menyelesaikan masalah sampah menggunung di kota Bandung. Cahyana yang saat itu juga adalah Komisaris PTPN Jawa Barat, segera membuka kawasan hutan-hutan di PTPN Jawa Barat untuk membantu proses penetralisir-an sampah menggunung di Kota Bandung.
Kota di kaki Gunung Seperti Perahu Terbalik (Tangkuban Perahu) itu dikepung oleh ribuan hektar hutan aneka jenis yang dikelola oleh PTPN Jawa Barat.
Tidak sulit mengikut sertakan hutan dalam proses pengolahan dan pemusnahan sampah. Kurang dari 1 bulan kemudian Bandung pun berubah menjadi cantik kembali. Tak lagi ada sampah menggunung, tak ada lagi bau menyengat seperti bau Bunga Bangkai.
****
Tak ada toko Madura yang memasang penjualan BBM di sepanjang jalan Untung Surapati. Akan tetapi di Jalan Trunojoyo ada beberapa toko Madura 24 jam, juga di jalan Kartini dan Jalan Yos Sudarso di sebelah Selatan kedua jalan tersebut.
Jika tidak hati-hati dan teledor, berkas api di sejumlah titik api itu bisa saja, terbang terbawa angin, atau terpercik terlempar, ke Toko Madura yang juga menjual BBM itu.
Dan... Buuum... meledak dulu, lalu terbakar....
Tapi kalau itu terjadi, hanya dalam waktu beberapa detik Kendaraan Damkar dan dari BPBD Sidoarjo siap memadamkan api. Kantor Damkar/BPBD Kabupaten Sidoarjo jaraknya hanya 200 meter-an dari lokasi beberapa titik api tersebut.
Di pojok jalan Kombes Pol. Moh. Duriat, ada Markas Satpol PP Kabupaten Sidoarjo, yang pasti juga siap turun tangan membantu.
Pagi itu di sebelah Barat trotoar Gereja Jemaat Bethesda Sidoarjo, ada 4 titik api. Tapi titik api itu tidak membahayakan. 3 sampai 4 titik api lainnya ada di sebelah timur Gereja, di sekitaran SMP Negeri 5 Sidoarjo.
Petugas kebersihan kota pagi itu malah menyalakan titik api itu, satu,dua, ... lima...lebih, ada 7 titik api. Tak ada yang keberatan. Sejumlah Ibu-Ibu yang sedang belanja kue di Penjual Kue Cahaya di Simpang jalan Kartini, malah hanya melihat api itu sekilas saja. Ah itu hal yang biasa saja, bakar sampah di pinggir jalan, itu hal yang biasa saja.
Laporan: ESW




